Kamis, 30 Juni 2016

Rahasia Angka 21 pada Cinema21




“RAHASIA ANGKA 21 DI BALIK CINEMA21 ”
Silvia Febrianti – 152151225
Febrianti441@gmail.com






Cineplex 21 Group
Studio 21,JPG 2014-01-07 15-43.jpg
Jenis                Bioskop
Moto                Lead Your Life
Negara             Indonesia
Ketersediaan    Nasional
Pendiri             Sudwikatmono
Tanggal peluncuran     1986
Tokoh kunci    Sudwikatmono
Benny  Suherman
Harris Lesmana
C
INEMA 21 adalah sebuah jaringan bioskop di Indonesia, dan pelopor jaringan cinemaplex di Indonesia. Jaringan bioskop ini tersebar di beberapa kota besar di seluruh Indonesia dan sebagian besar di antaranya terletak di dalam pusat perbelanjaan, dengan film-film Hollywood dan Indonesia sebagai menu utama, dan didukung oleh teknologi tata suara Dolby Digital dan THX. CINEMA 21 memulai kiprahnya di industri hiburan sejak tahun 1986, hingga Juni 2015, Cinema 21 Group memiliki total 780 layar yang tersebar di 33 kota di 146 lokasi di seluruh Indonesia. Group ini didirikan oleh Sudwikatmono bekerjasama dengan Benny Suherman dan Harris Lesmana.
Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, Cineplex 21 Group telah melakukan sejumlah pembenahan dan pembaharuan, di antaranya adalah dengan membentuk jaringan bioskopnya menjadi 4 merek terpisah, yakni Cinema XXI, The Premiere, Cinema 21, dan IMAX untuk target pasar berbeda.
Studio 21 pertama dibangun di jalan MH Thamrin Kav 21 oleh Sudwikatmono pada tahun 1986, setelah berhasil melakukan ujicoba sinepleks dengan mengubah ruang gedung bioskop Kartika Chandra menjadi beberapa layar. Studio pertama, Sineplkeks di Kartika Chandra ini juga bekerjasama dengan Raam Punjabi.
Nama "21" diambil dari nomer kaveling jalan MH Thamrin di lokasi Studio 21 pertama dibangun. Namun, ada juga yang mengatakan, bahwa nama itu sesungguhnya merupakan akronim dari Su-Dwi-kat-Mono. Saat ini, Gedung Studio 21 pertama tersebut sudah berubah menjadi gedung pencakar langit BII Tower. Pada tahun 1999 Sudwikatmono melepaskan kepemilikan jaringan bioskop 21 itu kepada partnernya, Benny Suherman dan Harris Lesmana.

Cinema 21 Dan XXI

CINEMA 21 memiliki jaringan bioskop terbanyak yang tersebar di seluruh Nusantara sebelum Cinema XXI berdiri. Cinema XXI pertama di Plaza Indonesia
Cinema XXI pertama kali didirikan di Plaza Indonesia Entertainment X’nter dengan 4 buah teater reguler dan 2 buah teater Premiere. Cinema XXI yang diberi nama Studio XXI ini merupakan satu-satunya Cinema XXI yang menggunakan sofa empuk di keseluruhan studionya dan memiliki sertifikat THX untuk semua studionya.
Cinema 21 menguasai keseluruhan pangsa pasar penonton bioskop Indonesia dengan memberlakukan harga tiket bervariasi dan jenis film yang diputar, sesuai dengan lokasi dan target yang dituju.
Setelah Cinema XXI berdiri, perlahan Cinema 21 berubah menjadi jaringan bioskop kelas dua, dengan sebagian besar film yang diputar merupakan film-film karya negeri sendiri dan film-film asing yang tidak diputar di Cinema 21 lagi. Namun hal ini tidak berlaku di beberapa kota di luar Jakarta yang belum tersedia Cinema XXI dan tidak banyak terdapat Cinema 21.
Pada umumnya Cinema 21 telah dilengkapi tata suara Dolby Digital, dan bahkan beberapa di antaranya yang merupakan Cinema 21 versi terdahulu telah bersertifikat THX, seperti Hollywood KC (Kini Hollywood XXI), Megaria (Kini Metropole XXI) dan Mega (Kini Pluit Village XXI) untuk area Jakarta. Tidak hanya itu, beberapa Cinema 21 bahkan mengadaptasi suasana dan kenyamanan yang setara dengan Cinema XXI. Namun sekali lagi, hal itu berdasarkan pangsa pasar yang dituju dan perjanjian dengan pengelola mal.

Sosok Pribadi Sudwikatmono

Sudwikatmono adalah adalah saudara sepupu Pak Harto. Pak Dwi, demikian panggilan akrabnya. Pak Harto (Presiden Soeharto waktu itu) mengikutsertakan Pak Dwi dalam jajaran pengusaha besar yang kerap diberi julukan ’konglomerat’ ini untuk secara bersama dengan pengusaha kakap lainnya membantu mengentaskan kemiskinan melalui satu wadah bernama Yayasan Damandiri (Dana Sejahtera Mandiri).
“Kami berkumpul dalam satu wujud kesadaran untuk membantu pemerintah melalui Yayasan Damandiri dalam pengentasan kemiskinan,” kata Sudwikatmono pelan.
Meski kondisi lelaki kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 28 Desember 1934 sudah berbeda dengan saat sepuluh tahun lalu, namun masih sangat jelas dalam merunut kiprah dan aktivitasnya dalam Yayasan Damandiri.
“Arahan Pak Harto waktu itu kepada orang-orang yang dipercayanya untuk menjalankan yayasan-yayasan tersebut beliau langsung yang menunjuk kami. Kemudian Pak Harto memberikan intruksi. Ini semua adalah kesadaran atas kami yang ditunjuk sebagai pengurus guna membantu pemerintah supaya persoalan kemiskinan bisa terus ditekan,” papar raja sinepleks Teater 21.
Prestasi sebagai pengusaha yang sempat diraihnya, mulai dari pendiri PT Bank Surya, Komisaris PT Bogasari Flour Mills, Komisaris PT Indofood Sukses Makmur, Komisaris PT Indika Entertainment, bukan saja tahu yayasan-yayasan lain selain Yayasan Damandiri yang menempatkan dirinya sebagai salah seorang tokoh pendiri dari yayasan tersebut.
Mulai berbisnis sejak tahun 1957. Awalnya ekspor kulit yang bau itu. Sebelumnya, waktu sekolah, malah sempat jual sepeda bekas. Ia membeli hanya Rp 200, kemudian diperbaiki habis Rp 500, lalu dijual seharga Rp 1.200. Untungnya buat kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM. Tapi lama-lama tidak sanggup.
Baru tingkat dua ibunya sudah sambat soal biaya, terlebih Bapaknya sudah pensiun. Ibu hanya terima uang dari sewa kamar kos. Bahkan ia sampai satu kamar dengan anak kos. Tapi prinsipnya tidak mau minta kakak-kakaknya, walaupun sebenarnya bisa. Ia mau cari sendiri.

Mewakili pihak Cinema 21, Catherine Keng konfirmasi perbedaan bioskop 21 dan XXI


Muvila.com – Di era 1990-an, kompleks bioskop 21 sangat berjaya, bahkan jadi salah satu daya tarik utama pusat-pusat keramaian di kota-kota besar. Namun, memasuki milenium baru, muncul label kompleks bioskop baru, yaitu XXI. Tak terlalu sulit ditebak bahwa XXI sebenarnya adalah 21 dalam wajah baru pada dasarnya dua angka ini dibaca 'dua puluh satu'. Bioskop XXI memang sekilas tampak lebih mewah dari 21. Akan tetapi, selain tampilan luarnya, sebenarnya tidak ada perbedaan mencolok dari keduanya, baik dari fasilitas, pelayanan, maupun harga tiketnya. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan 21 dengan XXI?
Corporate Secretary Cinema 21, Catherine Keng memberikan jawabannya kepada Muvila. Saat ditemui di kantornya di Jakarta, bulan lalu, Catherine menjelaskan bahwa XXI adalah langkah rebranding dari Cinema 21 yang telah berlangsung sekitar satu dekade ini. "Sebenarnya XXI maupun 21 itu sama saja. Kami berharap, tiga empat tahun ke depan 21 sudah hilang semua, jadi XXI," ungkap Catherine.
Catherine mengungkapkan bahwa langkah ini dilakukan, mengingat usia brand 21 yang telah cukup lama. Brand 21 sendiri sudah digunakan sejak tahun 1987 sebagai bioskop pertama di Indonesia dengan konsep multipleks, yaitu satu lokasi bioskop memiliki lebih dari satu layar. Sebelumnya, bioskop lebih banyak tersedia dengan konsep single-screen, yaitu satu bioskop satu layar.
"Setelah ada multipleks 21, semua tempat yang kami kembangkan jadi 21. Tahun 2004, kami melakukan rebranding. Kami upgrade secara interior dan semuanya, termasuk logonya, jadi XXI," jelas Catherine.
"Jadi, hampir semua 21 dalam 10-11 tahun ini kami usahakan sudah upgrade ke XXI. Memang masih ada bioskop yang belum kami upgrade, karena di satu sisi kami ekspansi terus, di sisi lain kita coba upgrade bioskop yang sudah ada. Tapi memang belum semua ter-handle. Inginnya sih semua dalam satu-dua tahun, tapi kan nggak bisa. Pasti ada yang masih tertinggal dan belum di-upgrade," jelas Catherine lagi.
Sekadar informasi, bioskop pertama dengan brand XXI ada di pusat perbelanjaan Plaza Indonesia EX, Jakarta, yang kini sudah tutup karena gedungnya dialihfungsikan sejak tahun 2014. Setelah itu, secara berkala bioskop-bioskop baru yang dikelola grup Cinema 21 dibangun dengan brand XXI, serta perlahan beberapa bioskop 21 yang sudah ada berubah jadi XXI.
Hingga sekarang, grup 21 menjadi jaringan bioskop terbesar dengan memiliki lebih dari 750 layar yang tersebar di berbagai lokasi seluruh Indonesia, baik dalam brand 21 maupun XXI, juga bioskop kelas khusus The Premiere dan IMAX.

DAFTAR PUSTAKA
Muvila.com. (2015). Ini Bedanya Bioskop 21 Dan XXI. [Online]. Tersedia:http://www.muvila.com/film/artikel/ini-bedanya-bioskop-21-dan-xxi-150306p.html. [25 juni 2016].
Tribunnews. (2011). Inilah sosok pribadi Sudwikatmono. [Online]. Tersedia:http://www.tribunnews.com/nasional/2011/01/08/inilah-sosok-pribadi-sudwikatmono. [25 juni 2016].
Wikipedia. ( - ). Cinaplex 21 Group. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wikiCineplex_21_Group. [25 juni 2016].







Tidak ada komentar:

Posting Komentar