“RAHASIA
ANGKA 21 DI BALIK CINEMA21 ”
Silvia
Febrianti – 152151225
Febrianti441@gmail.com
Cineplex 21 Group
Studio 21,JPG 2014-01-07 15-43.jpg
Jenis Bioskop
Moto Lead Your Life
Negara Indonesia
Ketersediaan Nasional
Pendiri Sudwikatmono
Tanggal peluncuran 1986
Tokoh kunci Sudwikatmono
Benny Suherman
C
|
INEMA 21 adalah sebuah jaringan bioskop di Indonesia, dan pelopor jaringan
cinemaplex di Indonesia. Jaringan bioskop ini tersebar di beberapa kota besar
di seluruh Indonesia dan sebagian besar di antaranya terletak di dalam pusat
perbelanjaan, dengan film-film Hollywood dan Indonesia sebagai menu utama, dan
didukung oleh teknologi tata suara Dolby Digital dan THX. CINEMA 21 memulai
kiprahnya di industri hiburan sejak tahun 1986, hingga Juni 2015, Cinema 21
Group memiliki total 780 layar yang tersebar di 33 kota di 146 lokasi di
seluruh Indonesia. Group ini didirikan oleh Sudwikatmono bekerjasama dengan
Benny Suherman dan Harris Lesmana.
Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, Cineplex 21
Group telah melakukan sejumlah pembenahan dan pembaharuan, di antaranya adalah
dengan membentuk jaringan bioskopnya menjadi 4 merek terpisah, yakni Cinema XXI, The Premiere, Cinema 21,
dan IMAX untuk target pasar berbeda.
Studio 21 pertama dibangun di jalan MH Thamrin Kav 21
oleh Sudwikatmono pada tahun 1986, setelah berhasil melakukan ujicoba sinepleks
dengan mengubah ruang gedung bioskop Kartika Chandra menjadi beberapa layar.
Studio pertama, Sineplkeks di Kartika Chandra ini juga bekerjasama dengan Raam
Punjabi.
Nama "21" diambil
dari nomer kaveling jalan MH Thamrin di lokasi Studio 21 pertama dibangun.
Namun, ada juga yang mengatakan, bahwa nama itu sesungguhnya merupakan akronim
dari Su-Dwi-kat-Mono. Saat ini, Gedung Studio 21 pertama tersebut sudah
berubah menjadi gedung pencakar langit BII Tower. Pada tahun 1999 Sudwikatmono
melepaskan kepemilikan jaringan bioskop 21 itu kepada partnernya, Benny
Suherman dan Harris Lesmana.
CINEMA 21 memiliki
jaringan bioskop terbanyak yang tersebar di seluruh Nusantara sebelum Cinema
XXI berdiri. Cinema XXI pertama di Plaza Indonesia
Cinema XXI pertama
kali didirikan di Plaza Indonesia Entertainment X’nter dengan 4 buah teater
reguler dan 2 buah teater Premiere. Cinema XXI yang diberi nama Studio XXI ini
merupakan satu-satunya Cinema XXI yang menggunakan sofa empuk di keseluruhan
studionya dan memiliki sertifikat THX untuk semua studionya.
Cinema 21 menguasai keseluruhan pangsa pasar penonton
bioskop Indonesia dengan memberlakukan harga tiket bervariasi dan jenis film
yang diputar, sesuai dengan lokasi dan target yang dituju.
Setelah Cinema XXI berdiri, perlahan Cinema 21 berubah menjadi jaringan
bioskop kelas dua, dengan sebagian besar film yang diputar merupakan film-film
karya negeri sendiri dan film-film asing yang tidak diputar di Cinema 21 lagi.
Namun hal ini tidak berlaku di beberapa kota di luar Jakarta yang belum
tersedia Cinema XXI dan tidak banyak terdapat Cinema 21.
Pada umumnya Cinema 21 telah dilengkapi tata suara Dolby
Digital, dan bahkan beberapa di antaranya yang merupakan Cinema 21 versi
terdahulu telah bersertifikat THX, seperti Hollywood KC (Kini Hollywood XXI),
Megaria (Kini Metropole XXI) dan Mega (Kini Pluit Village XXI) untuk area
Jakarta. Tidak hanya itu, beberapa Cinema 21 bahkan mengadaptasi suasana dan
kenyamanan yang setara dengan Cinema XXI. Namun sekali lagi, hal itu
berdasarkan pangsa pasar yang dituju dan perjanjian dengan pengelola mal.
Sosok Pribadi Sudwikatmono
Sudwikatmono adalah adalah saudara sepupu Pak Harto. Pak
Dwi, demikian panggilan akrabnya. Pak Harto (Presiden Soeharto waktu itu)
mengikutsertakan Pak Dwi dalam jajaran pengusaha besar yang kerap diberi
julukan ’konglomerat’ ini untuk secara bersama dengan pengusaha kakap lainnya
membantu mengentaskan kemiskinan melalui satu wadah bernama Yayasan Damandiri
(Dana Sejahtera Mandiri).
“Kami berkumpul dalam satu wujud kesadaran untuk membantu
pemerintah melalui Yayasan Damandiri dalam pengentasan kemiskinan,” kata
Sudwikatmono pelan.
Meski kondisi lelaki kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 28
Desember 1934 sudah berbeda dengan saat sepuluh tahun lalu, namun masih sangat
jelas dalam merunut kiprah dan aktivitasnya dalam Yayasan Damandiri.
“Arahan Pak Harto waktu itu kepada orang-orang yang
dipercayanya untuk menjalankan yayasan-yayasan tersebut beliau langsung yang
menunjuk kami. Kemudian Pak Harto memberikan intruksi. Ini semua adalah
kesadaran atas kami yang ditunjuk sebagai pengurus guna membantu pemerintah
supaya persoalan kemiskinan bisa terus ditekan,” papar raja sinepleks Teater
21.
Prestasi sebagai pengusaha yang sempat diraihnya, mulai
dari pendiri PT Bank Surya, Komisaris PT Bogasari Flour Mills, Komisaris PT
Indofood Sukses Makmur, Komisaris PT Indika Entertainment, bukan saja tahu
yayasan-yayasan lain selain Yayasan Damandiri yang menempatkan dirinya sebagai
salah seorang tokoh pendiri dari yayasan tersebut.
Mulai berbisnis sejak tahun 1957. Awalnya ekspor kulit
yang bau itu. Sebelumnya, waktu sekolah, malah sempat jual sepeda bekas. Ia
membeli hanya Rp 200, kemudian diperbaiki habis Rp 500, lalu dijual seharga Rp
1.200. Untungnya buat kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM. Tapi lama-lama tidak
sanggup.
Baru tingkat dua ibunya sudah sambat soal biaya, terlebih
Bapaknya sudah pensiun. Ibu hanya terima uang dari sewa kamar kos. Bahkan ia
sampai satu kamar dengan anak kos. Tapi prinsipnya tidak mau minta
kakak-kakaknya, walaupun sebenarnya bisa. Ia mau cari sendiri.
Muvila.com – Di era 1990-an, kompleks bioskop 21 sangat
berjaya, bahkan jadi salah satu daya tarik utama pusat-pusat keramaian di
kota-kota besar. Namun, memasuki milenium baru, muncul label kompleks bioskop
baru, yaitu XXI. Tak terlalu sulit ditebak bahwa XXI sebenarnya
adalah 21 dalam wajah baru pada dasarnya dua angka ini dibaca 'dua puluh satu'.
Bioskop XXI memang sekilas tampak lebih mewah dari 21. Akan tetapi, selain
tampilan luarnya, sebenarnya tidak ada perbedaan mencolok dari keduanya, baik
dari fasilitas, pelayanan, maupun harga tiketnya. Lalu, apa sebenarnya yang
membedakan 21 dengan XXI?
Corporate Secretary Cinema 21, Catherine Keng memberikan
jawabannya kepada Muvila. Saat ditemui di kantornya di Jakarta, bulan lalu,
Catherine menjelaskan bahwa XXI adalah langkah rebranding dari
Cinema 21 yang telah berlangsung sekitar satu dekade ini. "Sebenarnya XXI
maupun 21 itu sama saja. Kami berharap, tiga empat tahun ke depan 21 sudah
hilang semua, jadi XXI," ungkap Catherine.
Catherine mengungkapkan bahwa langkah ini dilakukan,
mengingat usia brand 21 yang telah cukup lama. Brand 21
sendiri sudah digunakan sejak tahun 1987 sebagai bioskop pertama di Indonesia
dengan konsep multipleks, yaitu satu lokasi bioskop memiliki lebih dari satu
layar. Sebelumnya, bioskop lebih banyak tersedia dengan konsep single-screen,
yaitu satu bioskop satu layar.
"Setelah
ada multipleks 21, semua tempat yang kami kembangkan jadi 21. Tahun 2004, kami
melakukan rebranding. Kami upgrade secara interior
dan semuanya, termasuk logonya, jadi XXI," jelas Catherine.
"Jadi, hampir semua 21 dalam 10-11 tahun ini kami
usahakan sudah upgrade ke XXI. Memang masih ada bioskop yang
belum kami upgrade, karena di satu sisi kami ekspansi terus, di
sisi lain kita coba upgrade bioskop yang sudah ada. Tapi
memang belum semua ter-handle. Inginnya sih semua dalam satu-dua tahun, tapi
kan nggak bisa. Pasti ada yang masih tertinggal dan belum di-upgrade,"
jelas Catherine lagi.
Sekadar informasi, bioskop pertama dengan brand XXI
ada di pusat perbelanjaan Plaza Indonesia EX, Jakarta, yang kini sudah tutup
karena gedungnya dialihfungsikan sejak tahun 2014. Setelah itu, secara berkala
bioskop-bioskop baru yang dikelola grup Cinema 21 dibangun dengan brand XXI,
serta perlahan beberapa bioskop 21 yang sudah ada berubah jadi XXI.
Hingga sekarang, grup 21 menjadi jaringan bioskop
terbesar dengan memiliki lebih dari 750 layar yang tersebar di berbagai lokasi
seluruh Indonesia, baik dalam brand 21 maupun XXI, juga
bioskop kelas khusus The Premiere dan IMAX.
DAFTAR
PUSTAKA
Muvila.com.
(2015). Ini Bedanya Bioskop 21 Dan XXI. [Online]. Tersedia:http://www.muvila.com/film/artikel/ini-bedanya-bioskop-21-dan-xxi-150306p.html.
[25 juni 2016].
Tribunnews.
(2011). Inilah sosok pribadi Sudwikatmono.
[Online]. Tersedia:http://www.tribunnews.com/nasional/2011/01/08/inilah-sosok-pribadi-sudwikatmono.
[25 juni 2016].
Wikipedia.
( - ). Cinaplex 21 Group. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wikiCineplex_21_Group.
[25 juni 2016].





Tidak ada komentar:
Posting Komentar